Selasa, 23 November 2010

ATAP


Atap Genteng (Sudut Kemiringan Atap : 30o - 40o)

1.     Atap genteng tanah liat tradisional
Material ini banyak dipake di rumah umumnya. Genteng sebenarnya terbuat dari tanah liat yang dipress  terus dibakar. Masalah kekuatannya gimana?? Kekuatannya yaa cukuplah. Buat masangnya, genteng tanah liat harus pake rangka. Kalo gk pake rangka, gk bakalan bisa jd atap, dah. Genteng ini dipasang di atap miring. Sistem pemasangannya inter-locking (aku kira inter-milan.. hehehe..).. Inter-locking = saling mengunci 'n mengikat. Warna sama penampilan genteng ini pasti berubah seiring waktu yang berjalan. Biasanya juga akan tumbuh jamur di bagian badan genteng. Buat sebagian orang dengan gaya rumah tertentu menganggap kalo tampilan akan lebih alami kalo pake genteng jenis ini, tapi kebanyakan orang kurang suka sama tampilannya. Biasalah.. ada orang yang nganggap genteng ini agak jadoel (jaman doeloe)..

2.     Atap genteng keramik
Dari namanya aja kita udah bisa tau kalo bahan dasarnya  keramik yang asalnya dari tanah liat. Tapi genteng ini udah ngalamin proses finishing yaitu lapisan glazur di permukaannya. Lapisan ini bisa dikasih warna macem2 'n bisa melindungi genteng dari lumut. Umurnya bisa mencapai 20 – 50 tahun, untuk keterangan lebih lanjut hubungi dokter.. eh salah deh..  hehehehehehe.. maksudnya hubungi distributornya... Terus, buat pengaplikasiannya pas banget buat rumah2 modern apalagi yang di perkotaan.




3.     Atap genteng beton
Dai segi bentuk 'n ukurannya atap genteng beton hampir mirip sama genteng tanah tradisional, tapi bahan dasarnya tuh campuran semen PC 'n pasir kasar, terus dikasih lapisan tipis yang fungsinya sebagai pewarna sekaligus pelapis kedap air. Sebenarnya atap ini bisa bertahan hampir selamanya, (wah, mantapp kayaknya nih..) tapi lapisan pelindungnya cuma bisa bertahan antara 30 tahun sampe 40 tahun. Yah,... payah donk.. Tapi gpp deh.. mendingan 30-40 tahun daripada cuma 5 taon.. y gk??


Atap Sirap (Sudut Kemiringan Atap : 25o – 40o)

Sirap = sirip, bener gk yaa?? Salah gan..! Atap sirap itu atap yang berbahan kayu Besi (biasanya dikenal dengan panggilan kayu Ulin). Kayu ini SANGAT kuat, bisa awet sampe puluhan tahun. Dulu sih masih banyak tiang listrik yang bahannya dari kayu ini. Kesan alami bangunan bisa keliatan kalo kita pake atap sirap ini.
Di Indonesia kayu ini banyak ditemukan di Kalimantan. Supaya bisa dipake jadi bahan atap, kayu Besi dipotong-potong tipis (sekitar 4 – 5 mm). Terus dipasang sama kayak masang genteng tanah, bagian bawah terlebih dulu baru ditumpuk sama yang disebelah atas.
Itu pemasangannya masih secara sederhana. I mau jelasin yang lebih detil nih dari pemasangan atap sirap.. Untuk menjaga supaya gak renggang, bilah-bilah kayu besi bahan atap sirap dipotong / dirapikan supaya benar-benar presisi sebelum dipasang. Apalagi buat atap sirap expose (apaan lagee nih?? ckckck).. Jadi iatap sirap expose itu bangunan  yang gak pake plafond, sirap yang ada di lapisan paling bawah langsung keliatan, makanya kayunya itu harus benar-benar rapi / rapat.

Atap Beton (Sudut Kemiringan Atap : 1o – 2o)

Sebenarnya jenis atap datar ini jarang jadi atap utama. Atap ini cuma dipake buat nutup bagian rumah yang sulit ditutup sama jenis atap miring. Atap beton bisa dikatakan sebagai atap yang bebas kebocoran soalnya dari bentuknya aja solid. Tapi, lebih bagus kalo atap beton diperiksa setelah ngalamin satu musim hujan 'n satu musim kemarau alias selama setahun setelah selesai dibangun, supaya mendeteksi keretakan yang mungkin terjadi 'n kerusakan lapisan waterproofing-nya. O ia... Jangan lupa...! Lapisan waterproofingnya harus secara periodik diperbaiki atau diganti.. Ok?


Atap Kaca (Sudut Kemiringan Atap : 10o – 20o)

Penggunaan kaca udah bervariasi banget, ayoo siapa yang tau kaca dibuat apa aja?? Mr. X: atap, dinding, lantai, jendela dan pintu.. Mrs Y: anak tangga juga bisa dari kaca boo... Mr. A: o.O atiq jga mw jwb, tp udh diborong smw.. ckckck.. Balik ke inti pmbicaraan, jadi kaca punya macem2 spesifikasi yang bervariasi buat memudahkan penggunaan untuk berbagai keperluan.
Penggunaan kaca sebagai atap biasanya pada atap carport, skylight, teras, dll. Atap kaca punya karakter transparan yang biasanya dibuat untuk menghalangi masuknya hujan, bukan sinar matahari lho ya. Kaca yang sebaiknya digunakan memiliki ketebalan minimal 12 mm, berjenis tempered dan laminated.. apaaaa?? masa jenisnya tempe? weleh.weleh.. Bukan tempe, tapi tempered, maksudnya kaca diproses dengan suhu tinggi supaya lebih kuat. Kalo laminated artinya punya lapisan penahan supaya pecahan gak tersebar.























Atap Seng ( Sudut Kemiringan Atap : 20o – 25o)

Seng adalah salah satu dari sekian banyak bangunan yang sering dipake buat jadi penutup atap. Ukuran seng datar yang digalvanisir ( disepuh ) berkisar 915 mm x 1830 mm dengan beberapa macam tebal yang kurang dari 1mm. ukuran tebal yang kurang dari 1 mm dinyatakan dengan BWG. Ukuran seng gelombang biasa yang digalvanisir berkisar 760 mm x 1830 mm dengan beberapa macam – macam tebal yang dinyatakan dengan BWG. Seng mempunyai lebar propil 76 mm, tinggi propil 16 mm dan banyaknya gelombang ada 10.

Kekurangan : kalo seng terkena air hujan yang banyak mengandung garam maka  seng lebih mudah berkarat, terus karena jatuhnya air hujan maka akan menimbulkan suara yang gak enak didengar alias berisik gitu. Seng juga gak punya ifat isolasi panas 'n dingin artinya kalo udara di luar panas / dingin maka di dalam ruangan akan terasa lebih panas  / dingin.
Kelebihan : bobotnya rendah, harganya murah, pemasangannya mudah sekaligus dapat menghemat biaya.
Apa sih sebenernya bahan atap seng ini? Jadi, atap ini sebenarnya dibuat dari lembaran baja tipis yang diberi lapisan zinc secara elektrolisa. Tujuannya untuk membuatnya menjadi tahan karat. Kata seng berasal dari bahan pelapisnya(zinc). Jenis ini akan bertahan selama lapisan zinc ini belum hilang, yang terjadi sekitar tahun ke-30-an. Setelah itu, atap akan mulai bocor apabila ada bagian yang terserang karat.


Atap Aluminium (Sudut Kemiringan Atap : 20o – 25o)

Aluminium adalah logam yang menarik dan juga secara praktis unggul karena gak perlu perlindungan 'n pemeliharaan. Aluminium juga merupakan bahan yang sedap dipandang, mudah dikerjakan dan karena sifatnya yang mudah menyesuaikan bentuk dengan keadaan setempat, jadi penggunaannya tidak terbatas sesuai dengan selera para perencana.
Dari sifat-sifat aluminium yang mantap2, maka aluminium telah menjadi pilihan utama sebagai bahan  buat penutup atap, dinding dan lisplank untuk bangunan pabrik, gudang, perkantoran dan lain-lain.
Selain memenuhi persyaratan dasar sebagai bahan atap, dinding dan lisplank yaitu gk berkarat, aluminium juga punya sifat-sifat mekanis 'n sifat-sifat alamiah yang sangat sesuai buat dipake di bangunan. Soalnya bentuk alaminya yang indah, ringan, memiliki sifat-sifat mekanis dan sifat-sifat kimia yang baik, bentuknya juga dibuat sesuai dengan permintaan, jadi bisa memperkecil resiko kebocoran. I like this..!
Salah satu contoh Atap berbahan Aluminium, yang dapat dibuka-tutup, jadi angin 'n cahaya bisa masuk ke dalam ruangan, tapi  waktu pas hujan atap jangan lupa ditutup. Kalo gk, ntar kebanjiran deh.. wkwkwkk.. Pengaplikasiannya pas banget kalo di: Garasi, Tempat Jemur, Koridor, Void, Taman, Cafe / Restoran, Kolam Renang, Workshop..



Atap Tegola (Sudut Kemiringan Atap : >25o)

Atap Tegola dibuat supaya bisa gantiin Atap Sirap. Lho? Emangnya napa, atap sirap udh mau pensiunkah?? huhuhu.. Jangan dulu donk.. Atap sirap gak bakalan pensiun koq.. Tapi tau sendiri kan kalo bahan dasarnya itu kayu besi, kayu yang harus dipotong pake alat tertentu. Soalnya keras sih.. Makanya diganti sama atap tegola yang terbuat dari serat fiber, terus dikasih aspal sama ter terus diatasnya dikasih bebatuan dari Mexico yang anti panas, yg terakhir dikasih lapisan anti lumut.

Bahan atap ini udah cukup populer untuk ngebuat bentuk atap yang organik karena sifatnya yang lentur jadi bisa dilengkungkan.










Secara umum, cara pemasangannya seperti berikut ini:
- Jarak antar gording dibuat sekitar 100 cm
- Di atas gording gak perlu pake usuk kayak pemasangan genteng, tapi cukup pake multiplek yang berdimensi 122 cm x 244 cm. (ditempelkan pada gording dengan cara dipaku).
- Tegola yang berbentuk panel-panel seperti karpet kemudian ditempelkan di atas multiplek ini, dengan menggunakan lapisan aspal atau lem khusus.

Secara lebih spesifik cara pemasangannya bisa dilihat pada link berikut ini:

Atap Ijuk (Sudut Kemiringan Atap : >40o)

Dari namanya, kita udah bisa tau atap ini terbuat dari ap.. Yup, bnr banget, atap ijuk terbuat dari serat2 ijuk yang diambil dari pangkal pelepah daun enau atau aren.
Dijual dalam bentuk gulungan: gulungan serat halus tanpa lidi dan gulungan campuran (lidi dan serat halus)
Musuh utamanya adalah kelembapan, makanya perlu dipastikan kalo udah ngering dengan baik setelah basah misalnya setelah terkena hujan.
Dapat bertahan antara 15 – 50 tahun bergantung faktor: pemilihan bahan baku, kondisi lingkungan setempat, pengeringan, penyinaran. Iklim menyangkut kelembapan dan curah hujan, Ketebalan atap sama Kemiringan atap. Jadi, diinget baik2 yaw!

Cara Pemasangan:
1.     Iketan dipasang dari bawah ke atas, diiket di usuk pake tali bambu, jarak pemasangannya antara 4 -7 cm.
2.      Gulungan dipasang pada bubungan dengan jalan ditusuk bilah bambu runcing atau diiket dan kadang – kadang sih dipasang pada alas ujung bawah supaya agar ujung bawah atap kelihatan tebal.
3.      Gambahan dipasang pada bubungan sebagai penutup akhir dengan jalan menusuk atau mengikat.


1. Iketan
Bahan: -Bilah bambu pipih (tinjeh)
           -Bilah bambu bulat (jalon)
           -Tali pengikat dari ijuk atau bambu
Ijuk berdiameter sekitar 4 cm ditekukkan pada tinjeh, lalu ditempel jalon dan diiket tali.













2Gulungan
Selembar ijuk digulung membentuk gulungan dengan diameter sekitar 10- 15 cm sesuai kebutuhan, diiket  4 sampai 5 ikatan.

















 

     3.Gambahan
     Seberkas ijuk berdiameter sekitar 15 cm diikat di hampir di ujung seperti sapu lidi.



 


















4.  Isit
    Isit = Ijuk yang udah dipintal dalam bentuk tali diikat secara rapat pada sebilah bambu.












Atap Bambu (Sudut Kemiringan Atap : >30o)

Bambu dan alang-alang adalah bahan bangunan yang paling tua yang biasanya ada di dalam daerah pedesaan dan kampung sepanjang daerah-daerah subtropis dan tropis dunia. Akhir-akhir ini untuk memperbaiki kualitas 'n kuantitas rumah di dalam negara berkembang, para ahli lagi nyari-nyari cara yang lebih efektif pake bambu sebagai atap. Meskipun rumah dengan bambu dan alang- alang mudah dibangun dan diperbaiki, bambu juga  mempunyai sejumlah kelemahan, yaitu mudah diserang sama serangga-serangga,  terus gampang kebakaran dan kebusukan.
Konstruksi bambu cukup populer untuk dipertimbangkan soalnya bahannya murah dan berkelimpahan.















Atap Polycarbonate (Sudut Kemiringan Atap : 10o – 20o)































Atap ini berbentuk lembaran yang besar jadi bisa dipake buat luasan yang besar tanpa sambungan. Keunggulan polycarbonate lebih ke kualitas material 'n besarnya daya reduksi terhadap radiasi matahari. Biasanya sih dipake sebagai kanopi atau juga sebagai atap tambahan. Pemasangan polycarbonate mudah 'n cepat, tapi..... harganya memang lebih mahal dari atap-atap lainnya. Seiring dengan semakin berkembangnya teknologi dan bahan bangunan sekarang ini, masih banyak penutup atap lain yang tidak dapat saya jabarkan satu persatu. Semua dapat dipertimbangkan sesuai kebutuhan dan budget yang tersedia.


   

7 komentar:

  1. wahhh...
    berguna banget nih bwt qta maba,,..
    :)

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  3. arsitek sepakbola4 Februari 2011 13.08

    nice info gan
    mangstap
    :beer:

    BalasHapus
  4. Nice Posting bro..
    Maju arsitek Indo :D

    BalasHapus
  5. gila bos.. bagus juga postingan kalian.. :beer:

    BalasHapus